082198207682

Simpro Realty

Search More

Our Blog

Smart Home Gak Lantas Berarti Kotanya Juga Pintar

Posted on September 25, 2017 by Vibiz Admin in News

Kamu ingin tinggal di rumah atau apartemen yang terkoneksi internet dan bisa kamu pantau setiap saat? Hunian pintar memungkinkan kamu bisa mengendalikan semua peralatan di hunianmu itu semisal lampu, AC, TV, dan CCTV hanya melalui genggaman yakni ponsel pintarmu.

Saat ini pengembang banyak juga yang menawarkan konsep hunian pintar. Konsep ini sengaja ditawarkan pengembang untuk menarik konsumen yang menginginkan efisiensi energi dan fasilitas mutakhir di hunian.

Perumahan Beranda Mas di Bekasi, misalnya, merupakan contoh konsep rumah pintar. PT PGN Mas, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, membangun perumahan ini sebanyak 350 unit. Setiap unitnya memiliki fasilitas panel surya, juga terintegrsi dengan jaringan gas bumi PGN, yang terhubung dengan jaringan internet serat optik. Hunian yang model gini harga per unitnya berkisar Rp600 juta-Rp800 juta.

“Panel surya bisa menghemat pengeluaran listrik. Saat siang, rumah menggunakan panel surya sebagai tenaga listrik. Listrik PLN digunakan otomatis menjelang malam atau saat mulai gelap. Penggunaan listrik selama tahun pertama juga gratis,” kata bagian pemasaran rumah PT PGN Mas, Riana, seperti dikutip Harian Kompas, Senin (18/9/2017).

Pengendalian peralatan elektronik sebuah hunian dari sebuah gawai juga dilakukan oleh PT Waskita Karya Realty, anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk. Waskita Karya dalam hal ini bekerja sama dengan perusahaan jasa komunikasi dan teknologi, menyediakan layanan internet di hunian vertikal Brooklyn, Alam Sutera, Tangerang.

Di apartemen tersebut, berbagai peralatan bisa dikendalikan dengan gawai, semisal lampu, TV, dan kamera pemantau (CCTV). Untuk mendapatkan fasilitas ini, pemilik rumah berlangganan internet dan jaringan TV berbayar yang per bulannya Rp450.000.

Sedangkan PT Wika Realty, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, mengembangkan Apartemen Tamansari Iswara di Bekasi. Hunian yang juga mengusung konsep rumah pintar ini harganya bekisar Rp373 juta-Rp1 miliar per unit. Pihak pengembang mengklaim kelebihan hunian ini yakni dekat stasiun kereta ringan (LRT) yang sedang dibangun di Terminal Bekasi.

Rumah pintar bisa diartikan merupakan digitalisasi kawasan (area perumahan). Tapi, bukan berarti otomatis kotanya ikut berkonsep ‘pintar’ juga (smart city). Mengapa?

Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Realestate Indonesia (REI), Soelaeman Soemawinata, kota pintar paling tidak menghadirkan pembangunan yang berkelanjutan dengan memikirkan kebutuhan hingga 200-300 tahun ke depan. Kota yang pintar mampu menghadirkan kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, “Kata kuncinya, pembangunan berkelanjutan,” kata Soelaeman seperti dikutip dari sumber yang sama.

Menurutnya, kota cerdas itu bukanlah digitalisasi kawasan. Adalah hal yang keliru bila menganggap kota cerdas identik dengan digitalisasi permukiman. Penerapan teknologi canggih di permukiman hanya bersifat teknis dan berlaku saat itu, sementara teknologi dan era digital akan terus berkembang. Jadi, kota cerdas tidak identik dengan digitalisasi kawasan perumahan.

Tren kota cerdas saat ini umumnya berlangsung di Jawa dan luar Jawa, degan memanfaatkan sentra pertumbuhan penduduk dan pusat aktivitas, seperti kawasan industri dan pariwisata. Untuk hal ini, menurut Soelaeman, perlu dukungan pemerintah karena terkait akses transportasi publik, infrastruktur jalan tol, dan jalan arteri.

sumber: rumah123


0 comments

Leave A Comment